TRENDNEWS.ID | BALIKPAPAN – Pembangunan gedung kedokteran nuklir Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan memasuki tahap kelima sekaligus tahap akhir. Dengan anggaran sebesar Rp8,39 miliar, proyek pengembangan fasilitas kesehatan ini ditargetkan rampung secara fungsional agar layanan kedokteran nuklir dapat mulai beroperasi pada awal 2027.
Kepastian progres pembangunan tersebut menjadi perhatian Komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) yang melakukan kunjungan kerja sekaligus meninjau langsung kondisi gedung, Senin (2/11/2026).
Peninjauan dilakukan untuk memastikan pengerjaan tahap lanjutan berjalan sesuai kontrak, memenuhi target waktu, serta dapat segera mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.
Ketua Komisi III DPRD Kaltim, Abdulloh, mengatakan perkembangan fisik pembangunan menunjukkan kemajuan yang baik. Meski demikian, pihaknya menekankan pentingnya penyelesaian pekerjaan sesuai jadwal, mengingat fasilitas tersebut berkaitan langsung dengan kebutuhan pelayanan medis masyarakat.
“Di RSKD ini ada pembangunan yang belum selesai dan ada kontrak baru di bulan Oktober 2026. Kurang lebih pelaksanaan waktunya 60 hari kerja dan kami hadir untuk memastikan itu terlaksana dan sesuai target,” ujar Abdulloh.
Dalam kunjungan tersebut, Abdulloh bersama anggota Komisi III DPRD Kaltim, yakni Sugiyono, Abdurahman, dan Apansyah, turut meninjau lantai dua gedung kedokteran nuklir. Berdasarkan hasil peninjauan, sejumlah pekerjaan masih dalam tahap penyelesaian, termasuk pengerjaan akhir bangunan.
Abdulloh menegaskan, pembangunan fasilitas kesehatan harus mendapatkan perhatian khusus karena berkaitan dengan kepentingan publik.

“Karena ini bagian dari pelayanan maka harus mendapat perhatian khusus untuk pelayanan masyarakat Kaltim, khususnya Balikpapan,” jelasnya.
Direktur RSKD Balikpapan, Ahmad Jais, menjelaskan pembangunan gedung kedokteran nuklir telah dilaksanakan melalui beberapa tahapan. Saat ini, proyek memasuki tahap kelima setelah pekerjaan lanjutan dikontrakkan pada akhir Oktober 2026.
Menurutnya, tahap kelima merupakan fase terakhir untuk memastikan bangunan dapat difungsikan sesuai kebutuhan operasional pelayanan kedokteran nuklir.
“Tahap kelima ini adalah tahap terakhir sampai ke fungsional bangunan gedung kedokteran nuklir RSKD. Lantai 2 finishing termasuk interior dan lantai 3 penambahan dan masuk finishing juga,” ungkap Jais.
Ia menambahkan, pekerjaan di lantai satu telah selesai dan dinyatakan siap difungsikan untuk pelayanan rawat jalan pasien.
“Yang di lantai 1 ini kita sudah selesai dan siap difungsikan,” jelasnya.
Penyelesaian pembangunan secara bertahap tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan infrastruktur pelayanan kesehatan berbasis teknologi kedokteran nuklir di Balikpapan.
Kehadiran layanan kedokteran nuklir di RSKD Balikpapan diharapkan mampu memperluas akses masyarakat terhadap teknologi diagnostik medis modern.
Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir RSKD Balikpapan, Daniel Cung, menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi kedokteran nuklir tidak terbatas pada pemeriksaan maupun deteksi penyakit kanker.
Teknologi ini juga dapat digunakan untuk mengevaluasi fungsi berbagai organ tubuh, termasuk jantung, tiroid, sistem endokrin, hingga ginjal.

“Layanan ini juga dapat membantu menilai fungsi sejumlah organ tubuh, seperti jantung, tiroid, sistem endokrin, hingga ginjal,” ujarnya.
Menurut Daniel, kehadiran fasilitas tersebut akan memperluas pilihan pemeriksaan medis bagi masyarakat Kalimantan Timur. Selama ini, layanan kedokteran nuklir di Kaltim telah tersedia di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.
Dengan disiapkannya fasilitas serupa di RSKD Balikpapan, jangkauan pelayanan di wilayah Kalimantan Timur diharapkan semakin luas dan dapat menjangkau lebih banyak pasien.
Daniel menjelaskan, pada tahap awal operasional, pelayanan kedokteran nuklir RSKD Balikpapan akan diprioritaskan untuk pemeriksaan penyakit jantung dan gangguan endokrin.
Sementara itu, pemeriksaan kanker menggunakan teknologi Positron Emission Tomography (PET) masih memerlukan penambahan peralatan penunjang sebelum dapat dikembangkan lebih lanjut.
Adapun pemeriksaan menggunakan teknologi Single Photon Emission Computed Tomography (SPECT) telah mendapatkan jaminan pembiayaan dari BPJS Kesehatan.
“Pemeriksaan menggunakan teknologi SPECT telah ditanggung sepenuhnya oleh BPJS Kesehatan,” jelas Daniel.
Reporter : Agus

